Es Krim yang Tak Ikut Meleleh di Masa Pandemi

Awal merintis usaha tahun 2019, saat itu produk masih menggunakan formulasi yang sederhana saja, dan dipasarkan dengan cara menitipkan eskrim buatan sang ibu ke warung-warung tetangga dan kantin-kantin sekolah. Ternyata dari pemasaran seperti itu eskrim yang ditawarkannya bisa terjual habis. Namun sekitar 2 bulan berlangsung para pelanggan sedikit-sedikit menghilang.

Karenanya Bangun segera mempelajari dan menekuni tentang pembuatan eskrim yang baik, dia juga mengikuti pelatihan-pelatihan khusus untuk meningkatkan pengetahuannya. Disamping itu Bangun juga tidak segan-segan berkonsultasi dengan orang-orang yang sudah berpengalaman dengan bidang pembuatan dan pengelolaan es krim. Berbagai percobaan pun dilakukannya untuk bisa mendapatkan formulasi yang terbaik. Sekitar 1 tahun upaya risetnya pada akhirnya menunjukkan hasil yang memuaskan.

Menurutnya dirasakan belum memungkinkan untuk memiliki karyawan untuk menjalankan usahanya karena masih akan melihat tanggapan pasar. Bangun lalu memasarkan sendiri eskrimnya tersebut berkeliling di Jogja. Lalu pada saat mulai pandemi, es krim Talisha ini sudah mencapai 1000 partner pelanggan dan hal itu masih berjalan sampai sekarang (th 2021).

Permintaan di luar Jogja sudah banyak seperti Magelang, Solo, Kebumen. Produksi dikerjakan di rumah saja di wilayah Bimomartani Ngemplak Sleman. Eskrim yang tipe stick bisa diproduksi sampai sekitar 2500 – 3000 pcs/hari. Distribusi pengiriman tidak menggunakan kendaraan semacam thermofreezer melainkan dengan kemasan khusus yang pada dasarnya tidak akan membuat produk mudah mencair, sehingga bisa diangkut hanya dengan menggunakan sepeda motor atau mobil biasa.

Leave a Comment